Adriano Galliani - zimbio
Pada hari jumat (20/4/12), usai rapat pemegang saham, AC Milan mengalami peningkatan total pemasukan dari 253,2 juta euro (3,1 triliun rupiah) pada tahun 2010 menjadi 266,8 juta euro pada 2011, atau sekitar 3,24 triliun rupiah.
Tetap saja Milan merugi sebesar 67,3 juta euro (816 miliar) rupiah. Namun kerugian sebesar itu tak seberapa jika dibandingkan kerugian sebesar 69,8 juta euro yang diderita pada 2010.
“Kerugian itu sepenuhnya ditutup oleh perusahaan Fininvest (milik Berlusconi),” terang wakil presiden Adriano Galliani, seperti dilansir Football-Italia.
“Saya merasa perlu untuk berterimakasih kepada Presiden Berlusconi. Anda tak bisa tetap berada di papan atas sepak bola Italia hanya dengan mengandalkan pemasukan semata, bahkan saat Milan mencapai pemasukan terbesar, terutama dari sisi komersial,” lanjutnya.
“Pemasukan dari stadion masih tetap. Hak siar televisi dijual oleh Lega Serie A (badan pengelola Seri A) dan UEFA, sementara kami menerima tambahan pemasukan dari Liga Champions, tetapi penurunan terjadi di Liga karena hukum Melandri.”
“Sayangnya di Italia, semua klub papan atas kehilangan uang sementara yang untuk justru klub kecil, karena biaya (masing-masing klub) tetap ditanggung sendiri sementara pemasukan dibagi merata. Kami berbicara mengenai keseimbangan pemasukan dan pengeluaran pada tahun dimana kami memenangkan Scudetto dan Piala Super Italia,” tandasnya.
Milan adalah salah satu klub yang geram dengan kebijakan Lega Serie A menjual hak siar secara paket. Sebelumnya, hak siar dikelola oleh masing-masing klub. Kebijakan ini sempat menjadi masalah di awal musim, karena klub, terutama klub besar, merasa diperlakukan tidak adil.
Milan harus berpikir keras untuk menyeimbangkan neraca pengeluaran dan pemasukan. Pasalnya, UEFA akan menerapkan kebijakan Financial Fairplay, yang secara garis besar mengharuskan klub memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dana dari pemilik modal.
Tetap saja Milan merugi sebesar 67,3 juta euro (816 miliar) rupiah. Namun kerugian sebesar itu tak seberapa jika dibandingkan kerugian sebesar 69,8 juta euro yang diderita pada 2010.
“Kerugian itu sepenuhnya ditutup oleh perusahaan Fininvest (milik Berlusconi),” terang wakil presiden Adriano Galliani, seperti dilansir Football-Italia.
“Saya merasa perlu untuk berterimakasih kepada Presiden Berlusconi. Anda tak bisa tetap berada di papan atas sepak bola Italia hanya dengan mengandalkan pemasukan semata, bahkan saat Milan mencapai pemasukan terbesar, terutama dari sisi komersial,” lanjutnya.
“Pemasukan dari stadion masih tetap. Hak siar televisi dijual oleh Lega Serie A (badan pengelola Seri A) dan UEFA, sementara kami menerima tambahan pemasukan dari Liga Champions, tetapi penurunan terjadi di Liga karena hukum Melandri.”
“Sayangnya di Italia, semua klub papan atas kehilangan uang sementara yang untuk justru klub kecil, karena biaya (masing-masing klub) tetap ditanggung sendiri sementara pemasukan dibagi merata. Kami berbicara mengenai keseimbangan pemasukan dan pengeluaran pada tahun dimana kami memenangkan Scudetto dan Piala Super Italia,” tandasnya.
Milan adalah salah satu klub yang geram dengan kebijakan Lega Serie A menjual hak siar secara paket. Sebelumnya, hak siar dikelola oleh masing-masing klub. Kebijakan ini sempat menjadi masalah di awal musim, karena klub, terutama klub besar, merasa diperlakukan tidak adil.
Milan harus berpikir keras untuk menyeimbangkan neraca pengeluaran dan pemasukan. Pasalnya, UEFA akan menerapkan kebijakan Financial Fairplay, yang secara garis besar mengharuskan klub memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dana dari pemilik modal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar